Mari Ikut Kami
“Setelah sekian lama bergonta-ganti
hotel, sepertinya hotel ini layak aku nobatkan sebagai hotel dengan fasilitas
paling buruk.”
Entah
saat ini matahari sedang bertengger di sebelah mana. Aku tak dapat
membedakannya dari dalam kamar gelap ini. Kamar dengan sebuah jendela yang
mungkin lebih tepat jika disebut ventilasi untuk keluar masuk cicak dan nyamuk
di malam hari. Sepertinya hari sudah agak siang karena sinar matahari sudah
berjalan lurus ke ujung tempat tidurku. Sudah cukup lama aku tinggal di kamar
hotel ini. Aku sendiri lupa, apa alasanku masih betah di kamar hotel ini.
Dengan fasilitas yang jauh dari cukup. Mungkin kamar mandi dalam adalah
satu-satunya hal yang agak ‘menjual’ dari hotel ini, bahkan nama hotelnya pun
aku lupa. Disini perabotan yang disediakan hanya sebuah Kasur kayu yang selalu
berdecit setiap malam, lemari kecil yang hampir tak pernah aku buka, dan sebuah
cermin berbentuk oval berukuran sedang tergantung di samping Kasurku.
“Sssstt, kemari.” Sebuah suara
terdengar agak sayup tapi cukup untuk membuatku bangkit dari tempat tidurku.
“Siapa disana ?.”
“Disini dibelakangmu.”
Dari
dalam cermin terlihat bayangan seorang pria sedang mengketuk-ketukan jarinya
dari sisi lain cermin. Penampilannya tidak terlihat berbeda jauh denganku,
dengan kulit agak lusuh dan baju kusam bergaris. Dia seperti sedang mencoba
tersenyum tapi justru terlihat seperti memamerkan isi mulutnya yang membuatku
agak mual.
“Apa kabar ?.”
Sebuah pertanyaan basa-basi yang
tak selalu wajib untuk dijawab.
“Siapa kau?.”
“Hahaha.”
“Aku serius, jawab!.”
“Kujawab atau tidak kujawab tak
akan ada bedanya bagimu.”
“Ah, terserah kau sajalah,
kebetulan aku sudah lama tidak mengobrol dengan orang lain. Temani aku
mengobrol!.”
“Aku tidak melihat hal itu menjadi
sebuah kewajibanku.”
Orang ini sepertinya berbicara
dengan suara perut, karena aku tidak melihat gerakan bibirnya setiap dia
bicara.
“Kalau begitu untuk apa kau datang
kemari?.”
“Datang kemari?, aku selalu disini.
Aku selalu mengawasi apa yang kau lakukan di ruangan ini, melalui cermin ini.
Dari saat kau tertidur hingga kau terbangun.”
Aku
sendiri tidak mempercayai perkataan orang ini, tapi entah mengapa aku memang
selalu merasa ada yang sedang mengawasiku di kamar ini. Mungkin orang ini tidak
berbohong.
“Dan mengenai urusanku disini, aku
hanya merasa iba melihat kau mondar-mandir tak jelas di ruangan ini. Kau butuh
suasana baru kawan!.”
“Oh ya!, lalu apa yang bisa kau
tawarkan? Masuk ke cermin?. Hah!.”
“Tepat sekali!. Mari ikut kami,
disini semuanya lebih cerah.”
“Tapi, aku pikir tadi itu…”
“Sssst sudahlah, mari kutunjukan
caranya…”
Tiba-tiba
ada suara ketukan di pintu kamarku, lalu pintu itu berdecit dan terbuka dari
luar. Seorang wanita dengan pakaian rapi berwarna putih bersih masuk ke dalam
sambal membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi beserta lauk pauknya dan
segelas air putih.
“Permisi tuan, sepertinya tuan
sudah bangun. Ini sarapannya.”
“Ya ya, taruh saja di pojok sana.”
“Baik tuan.”
“Kenapa kalian tidak berpakaian
seperti pelayan-pelayan hotel lainnya?.”
Pakaian pelayan hotel disini memang
aneh sejak aku pertama kali masuk di hotel ini, aroma para pelayan disini juga
aneh. Seperti bau obat.
“Ini memang sudah menjadi ciri khas
kami, tuan.”
Pelayan itu hanya tersenyum lalu
meninggalkan ruangan. Pintu berdecit dan tertutup lagi, terdengar suara pintu
terkunci dari luar.
“Hotel yang aneh…, Sampai dimana
kita tadi?.”
*****
Sarapan untuk pasien nomor 0192
sudah diantarkan. Dari sekian banyak pasien disini, pasien yang satu itu memang
terlihat seperti orang waras. Entah trauma apa yang dialami pria itu hingga dia
berakhir disini.
“Apa!, kau yakin dengan ini?.”
Sepertinya itu suara dari pasien
0192, hari ini sepertinya dia mulai bermonolog lebih awal.
“Sudah, percaya saja, pasti
berhasil.”
“Baiklah, akan kucoba.”
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu
pecah, seperti suara kaca yang dihantam benda keras. Suara serpihan kecilnya
pun terdengar sedang bergelatakan di lantai. Sepertinya suara itu berasal dari
kamar milik pasien 0192.
“Ada apa ini?.”
Kepala perawat terlihat
sedang bergegas dan berusaha mendobrak
pintu kamar pasien tersebut.
“Mana kuncinya?.”
“Ini pak.”
Setelah pintu dibuka. Terlihatlah sebuah
pemandangan yang akan kuingat seumur hidupku. Pasien nomor 0192 sedang terduduk
di kasurnya sambil memegang pecahan cermin.
“Mari ikut kami...”
Dia tersenyum sambil menatapku.Tapi
bukan tatapan dan senyumnya yang membuatku ketakutan, melainkan tenggorokannya
yang sudah terurai di pangkal lehernya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar