Sabtu, 07 Januari 2012

Hitam


Mataku terbuka!. Percuma, pandanganku tetap sama, warna yang kulihat tetap sama, terbuka atau tertutup semuanya serupa. Aku bahkan tak bisa membedakan saat tidur dan terjaga. Tempat apa ini?, Bagaimana aku bisa sampai disini?. Yang bisa kulihat hanya hitam yang tak bergaris tepi.

Pernahkah kau meraba warna?. Biar kuberitahu, warna hitam memiliki tekstur yang kasar sekasar batu, aku mengetahuinya karena sekarang aku sedang meraba-raba apapun yang ada di dekatku. Hitam itu dingin dan lembab, aku dapat merasakan telapak tanganku menjadi licin dan berair.

Aku berjalan pelan menyusuri warna ini, sepertinya langkah kakiku sedang di ikuti. setiap aku melangkah ada langkah lain yang menyusul dibelakangku, kupercepat langkahku tapi langkah itu semakin cepat mengikutiku, kuhentikan langkahku hilang juga langkah dibelakangku, akhirnya aku mencoba berlari sekencang yang aku bisa tapi langkah itu ikut berlari dibelakangku. Semakin cepat aku berlari semakin cepat pula langkah itu mengikuti, hingga kakiku menyandung sesuatu, membuatku terjatuh, berhentilah langkah itu. setelah kuperhatikan lagi, ternyata itu hanya suara dari langkah kakiku yang menggema di seisi ruangan, betapa melegakannya, tambahan lagi, ternyata warna hitam itu penghantar gema yang baik.

Semakin lama aku menyusuri Ruang Hitam ini, semakin aku meragukan kewarasanku. Apakah aku sedang bermimpi?, semuanya terlihat tidak nyata (walaupun aku tidak benar-benar melihatnya). Dan yang paling buruk, apakah aku sudah mati?, bisa jadi ini merupakan jalan menuju akhirat. Tak ada yang tidak mungkin jika kau berada dalam posisiku.

Sepertinya aku memang sudah mati. Mengapa aku bisa berkata begitu ?. Itu karena aku pernah dengar bahwa jika kau sudah mati rohmu akan di berjalan menyusuri lorong gelap dan kau akan berjalan menuju sebuah cahaya. Dan cahaya itu telah terlihat bagiku. Aku melihat sebuah titik cahaya kecil dari kejauhan, aku sedikit ragu, apakah aku harus menghampirinya atau tidak.

Semakin aku memperhatikan cahaya itu. Semakin besar dan dekat kelihatannya cahaya itu. Aku tidak ingin membuang waktuku aku berlari menuju cahaya itu dan sepertinya cahaya itu juga bergerak mendekatiku. Aku berhenti berlari ketika cahaya itu terlihat cukup dekat, membuat aku bisa melihat apa yang ada dibelakangnya. Aku melihat sebuah jendela kaca dan seorang pria dibelakang kemudi. Cahaya itu meraung dengan kerasnya.

Tunggu dulu. Aku belum mati, semua kegelapan yang aku rasakan ini adalah karena aku berada di bawah tanah, jalur kereta bawah tanah. Dan kereta itu sedang melesat menuju arahku, sebuah benda besar bercahaya itu akan merenggut nyawaku. Cahaya telah merenggutku.

"Setidaknya kali ini aku akan mati juga."

Senin, 02 Januari 2012

Hai...!

Terimakasih untuk anda yang sudah membuka halaman ini. nantinya halaman ini akan saya isi sedikit demi sedikit dengan tulisan-tulisan yang berisi beberapa cerita pendek atau mungkin segelintir pemikiran absurd tentang hidup yang sudah cukup lama terkurung di dalam gumpalan daging merah muda yang terbungkus tulang tempurung kepala seorang manusia ini. Mungkin halaman ini bisa menyalurkan sebagian pikiran yang masih dengan liciknya bersembunyi dan bergelantungan di jaringan-jaringan otak saya yang masih belum menyatu dengan sempurna.

Jika nantinya anda menemukan beberapa tulisan yang membuat anda merasa tidak nyaman, anda berhak untuk tidak membacanya. lagipula kisah-kisah yang nanti akan saya ceritakan kepada anda hanya sebuah karangan (mungkin).

Dan yang terakhir, saya mohon maaf jika nanti anda akan menemukan tata bahasa indonesia yang kurang luwes dan terkesan kaku, karena jujur saya kurang memahami sastra dan bagaimana cara menyusun kata-kata dalam sebuah kalimat dengan benar.





Terimakasih

G.B.