Jendela Kayu
“Sekarang
aku tahu, mengapa harga sewa kamar disini
begitu murah. Jika saja aku mengetahuinya lebih awal. Aku tak akan menyewanya.”
Sore itu aku telah tiba di kota
tujuanku. Tak ada waktu istirahat barang semenit pun bagiku. Aku tak punya sanak
saudara di sini, kini aku harus mencari tempat menginap secepatnya. Dengan uang
yang kubawa ini, sepertinya sebuah hotel kelas melati sudah terasa lebih dari
cukup.
Semua hotel yang ada di dekat pusat
kota harganya cukup mahal. Bahkan hotel kelas melati di dekat pusat kota pun
berani memasang tarif sekelas hotel berbintang. Mau bagaimana lagi, kini aku
berada di salah satu kota tersibuk dan terpadat di negeri ini. Mau tak mau aku
harus mencari hotel lain dengan tarif yang lebih terjangkau.
Setelah berkeliling dan bertanya
kepada warga sekitar, aku menemukan sebuah hotel yang cukup terjangkau
tarifnya. Letaknya memang tidak begitu dekat dengan pusat kota, hotel ini
terletak di dekat pelabuhan, bagian utara dari pusat kota. Tempatnya tidak
begitu ramai malah terhitung sepi. Aku suka. Dari tulisan samar-samar di
dinding hotel ini terbacalah kata “TERATAI”, yang dapat dipastikan adalah nama
dari hotel ini.
Tak perlu pikir panjang lagi. Aku
segera menanyakan harga kamar di hotel ini. Dari kondisi tempatnya. Aku dapat
memperkirakan kalau harga kamar di hotel ini akan cukup murah.
“Kamar
kelas standar untuk satu orang masih ada mas ?.” pertanyaan yang tidak
perlu kutanyakan lagi, karena sepertinya hotel ini belum menerima tamu hari
ini.
“Masih,
mau di cek dulu ?.” Jawab resepsionist hotel seadanya. Sambil mengambil
tiga buah kunci kamar hotel.
“Boleh,
kalau bisa yang ada jendelanya ya, mas.” Suasana hari ini memang cukup gerah, sebuah kipas angin mungkin tidak akan cukup untuk mendinginkannya.
“Oh,
kalau itu ada mas, tinggal satu kamar, ini.” Sambil menunjukan kunci kamar
bernomor 15.
“Berapa
yang itu mas ?.”
“Lima puluh ribu, fasilitasnya kamar mandi dalam, kipas angin, sama televisi.
Ini satu-satunya kamar yang ada jendelanya mas.” Dengan nada meyakinkan,
sambil menawarkan kunci tersebut.
“Okelah,
saya ambil yang itu aja” sambil menyelesaikan administrasi dan membayar
sewa kamar.
“Langsung
ke kamarnya aja mas, ada di lantai tiga.” Si pelayan terlihat malas untuk
beranjak dari kursinya.
Kondisi kamar ini tidak terlalu
buruk, bahkan cukup baik. Mungkin jika mereka mengganti bohlam lampu lima watt
ini dengan lampu yang lebih terang, kamar ini akan terlihat lebih nyaman. Kuhidupkan
semua alat elektronik di kamar ini, mulai dari kipas angin sampai televisi.
Memang hanya itu alat elektronik di kamar ini. Kipas angin ini sepertinya
membutuhkan sedikit reparasi, suara baling-baling kipasnya sangat mengganggu,
seperti mendengar mesin jet karatan yang sedang dipanaskan. Televisi pun tidak
jauh berbeda nasibnya, gambarnya seperti terbelah secara vertikal di bagian
tengah. Setidaknya di kamar ini masih ada jendelanya. Kubuka jendela itu, agar
tidak terlalu gerah. Jendela itu mengarah ke seberang jalan. Aku bisa melihat
beberapa kendaraan bermotor lalu lalang di jalan tersebut. Langit sore yang
jingga pun terlihat dari jendela kayu ini.
“Sepertinya
aku perlu memeriksa kamar mandi.” Gumamku pelan. Sambil membongkar isi
ransel besarku. Mandi merupakan hal mewah bagiku, setelah hari yang melelahkan
ini.
Matahari telah terbenam sebagian
ketika aku menyelesaikan ritual bersih-bersihku. Tidak ada hal yang bisa
kulakukan di dalam kamar hotel ini, perutku pun mulai keroncongan karena sejak
siang tadi aku belum makan. Kuputuskan untuk turun ke bawah, dan mencari warung
terdekat untuk sekedar membeli makanan dan mungkin mencari kawan untuk
mengobrol.
Tepat didepan hotel, sebuah warung
angkringan kecil dengan tenda berwarna oranye baru saja buka. Si bapak pemilik
warung baru saja selesai melakukan sentuhan akhir dengan menggeser kursi
panjang didekat meja warung. Pemilik warung itu melihatku sedang memperhatikan
warung dari pintu hotel dan tersenyum.
“Mari,
mas, pelanggan pertama dapat diskon!” ucap pemilik warung itu sambil
tersenyum.
“Beneran
diskon lho pak !,” kataku sembari berlari
kecil menuju warung itu.
“Hahaha,
mumpung masih komplit, mau ambil apa mas ?”
“Yang
penting nasi dulu.” Ucapku sambil menyambar nasi bungkus yang masih hangat
dan sate telur puyuh.
“Minumnya
apa mas ?” si pemilik warung sudah mempersiapkan gelas untukku.
“Kopi
hitam panas, gulanya sedikit saja”
“
Ditunggu sebentar ya, mas. Airnya belum mateng.”
“Ya.”
“Bukan warga sini ya?, baru pindah?” si pemilik warung menyipitkan
matanya saat mencermati wajah tamunya, sembari memuntir kumis abu-abunya.
“Oh
bukan, Pak. Saya sedang berlibur saja di kota ini.”
“Menginap
dimana mas?, hotel itu ya?” sambil menunjuk hotel tempatku menginap.
“Betul.”
satu porsi nasi bungkus telah habis kulahap. Kini jariku mulai menelusuri
kumpulan gorengan yang masih hangat.
“Jika saya jadi anda, saya akan mencari hotel
yang lain di tempat yang lain.”
“Lho,
memangnya kenapa pak?.” sebenarnya aku juga kurang suka dengan suasana
hotel itu.
“Soalnya
hotel itu bangunan yang letaknya paling dekat dengan rumah itu. “, sambil
menunjuk dengan dagunya, sebuah rumah besar dengan arsitektur belanda yang
berdiri tepat di seberang jalan.
“itu
adalah rumah keluarga Rosenberg.” Seorang pria berjaket kulit yang baru
duduk di kursi ikut menyambung kalimat si pemilik warung.
“Kemana
aja kau Bud, lama tak nampak batang hidung kau!.” Tegur si pemilik warung
kepada si pendatang baru.
“Sorry
Dul, aku baru dapat proyek di luar kota. Kita reunian disini saja ya, aku sudah
telpon si Jono tadi.” Kata si pria pendatang, sambil menyalakan sebatang
rokok kretek.
Kedua pria itu terlihat akrab satu
sama lain. Sepertinya mereka memang kawan lama. Si pemilik warung terlihat
tertawa terbahak sesekali ketika mengobrol dengan pria itu. Dan pria itu tak
kalah sumringah ketika membicarakan kisah-kisah masa lalu mereka.
“Sampai
mana tadi aku ?.” kata pria itu sambil menoleh ke arahku.
“Rumah
keluarga Rosenberg” Jawabku
secara spontan. Aku masih penasaran dengan rumah itu dan kisah dibaliknya.
“Ah
iya, haruskah aku menceritakan kisah ini kawan?” pria itu menoleh ke arah
pemilik warung.
“Terserah
kau,” kata si pemilik warung sambil meletakan kopi panas pesananku di
meja.
“Baiklah,
jadi begini ceritanya. Dulu, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Keluarga
Rosenberg tinggal di rumah itu. Mereka adalah keturunan terakhir dengan marga
Rosenberg yang ada di kota ini. Sepasang suami istri dan seorang anak perempuan
berumur 9 tahun bernama Amelia Rosenberg.”
“Keluarga
ini terkenal akan kekayaannya. Kedua orang tua Amelia sering pergi berlibur ke
luar kota, dan meninggalkan anak perempuanyna bersama seorang pengasuhnya.
Sendirian di rumah.”
“Sampai suatu hari ketika mereka pergi berbelanja ke luar
kota. Rumah mereka kedatangan oleh tiga orang perampok. Mereka menyekap Amelia di
dalam kamar dan meminta uang tebusan pada kedua orang tuanya. Perampok ini pun
tidak segan-segan membunuh pengasuh Amelia.”
“Pokoknya tiga perampok itu orangnya brutal, dek” si
pemilik warung ikut menyambar kalimat pria itu.
“
Hampir dua minggu setelah penyekapan di rumah itu. Tidak ada kabar dari kedua
orang tua Amelia. Tepat pada minggu kedua ketiga bandit itu menyerahkan diri ke
kantor polisi tanpa alasan yang jelas. Keadaan mereka begitu memprihatinkan,
wajah mereka pucat, keringat dingin bercucuran dari wajah mereka, bahkan salah
seorang dari perampok itu mengalami luka sobek cukup serius di bagian wajah
sebelah kanannya.”
“Polisi lalu segera memeriksa keadaan rumah keluarga
Rosenberg. Jasad pengasuh Amelia ditemukan di bagian loteng rumah itu, tapi
Amelia sendiri menghilang entah kemana.” Tangan pria itu terlihat gemetar sembari memegang rokoknya.
“Seminggu
setelah penyerahan diri tiga perampok itu. Sebuah kabar datang dari kedua orang
tua Amelia. Mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan dan masuk ke
jurang. Jasad sepasang suami istri tersebut ditemukan oleh warga sekitar.
Sementara keberadaan Amelia sendiri masih belum diketahui.”
“Setiap kali aku mengingat kisah itu, semakin sulit aku
tidur.” Si pemilik warung yang sejak tadi mendengarkan, ikut
menimpali.
“Masa
iya dul?, hahaha.” Sambar pria itu.
“Kudengar,
para bandit itu sudah bebas sekarang.”
“6 tahun dalam kurungan sepertinya lebih nyaman dan aman daripada diluar sana. Hahaha.” Tawanya terdengar hambar.
Aku mulai merasa kurang nyaman
berada di warung itu. Ditambah aku telah cukup banyak mengobrol, mungkin aku
telah mengetahui terlalu banyak tentang tempat ini. Segera kuhabiskan kopi
hangat yang sudah mulai dingin, lalu pamit pulang ke kamarku.
“Sepertinya
saya harus kembali ke kamar. Besok harus bangun pagi, supaya tidak ketinggalan bus. Ambil aja kembaliannya pak”
Ucapku kepada kedua pria itu. Sambil membayar makanan yang kupesan.
“Ah
iya, terima kasih mas.” Si pemilik warung langsung memasukan uangnya ke
dalam laci.
“Jangan
terlalu dipikirkan, ceritaku tadi.” Ujar pria itu. Walaupun tidak semudah
itu melupakan sebuah kisah seram yang baru saja didengar.
“hahaha, pasti tak akan lupa pak.” Aku
hanya bisa tersenyum kecut.
Aku berjalan keluar dari warung. Kulihat
rumah keluarga Rosenberg yang tak berpenghuni lagi di seberang jalan. Sebuah
rumah besar dengan dinding berwarna putih gading, berdiri kokoh tepat di
seberang hotel tempatku menginap. Kuperhatikan bagian halaman depan rumah itu.
Sebuah ayunan tua terlihat masih terpasang di dekat kolam ikan yang sudah
mengering.
Dari arah berlawanan aku melihat pria
seumuran pemilik warung, sedang berjalan ke arah warung. Pria itu mengenakan
kemeja abu-abu yang sudah lusuh. Di bagian wajah sebelah kanannya ada semacam
codet memanjang sampai ke dagu. Aku langsung mempercepat langkahku menuju
hotel.
“Akhirnya
datang juga kau Jon!” suara pemilik warung dibelakangku terdengar
nyaring menyambut pria berkemeja abu-abu itu.
Di dalam hotel kulihat meja
resepsionist, tapi tak ada orang disana. Aku langsung berjalan menuju lantai
tiga, menuju kamarku. Sepertinya semua penghuni hotel ini telah telah tertidur.
Kulihat jam tanganku, waktu telah menunjukan pukul 23.52, sebaiknya aku pergi tidur
juga. Kamar masih terlihat sama seperti saat kutinggalkan. Rupanya aku belum
membereskan barang-barang di ranselku yang tadi sempat kubongkar.
Sambil membereskan barang-barang di
ranselku aku menengok keluar jendela. Terlihat warung angkringan berisi tiga
orang yang terlihat asik bercanda satu sama lain. Lalu kulihat keseberang
jalan. Rumah keluarga Rosenberg masih tetap sama, tak berpenghuni. Ayunan yang
tadi tergeletak di halaman kini terlihat bergerak mengayun pelan. Seorang
perempuan dengan pakaian lusuh sedang duduk di ayunan itu. Sepertinya rumah itu
memiliki seorang penghuni. Kuperhatikan wanita itu dari balik jendela kamarku.
Ia memiliki rambut pirang dan kulit putih. Seperti orang-orang keturunan
Eropa.
“Mungkinkah
orang ini adalah…” gumamanku tercekat, ketika perempuan itu
menoleh ke arahku. Ia seperti menyadari keberadaanku. Perempuan itu tersenyum
ke arahku, senyum datar dengan tatapan tanpa ekspresi. Dan dia masih tetap
menoleh ke arahku.
Aku langsung mundur
dan merebahkan diri di ranjangku. Aku tak berani memperhatikan jendela itu
lagi. Kututupi wajahku dengan bantal, berharap agar mimpi segera datang
menjemputku.
Setelah hampir setengah jam aku menutupi
wajahku, aku mencoba menoleh ke arah jendela itu lagi. Sebesar apapun ketakutan
itu, ia tak akan pernah bisa mengalahkan rasa penasaran. Maka aku mencoba
mengintip sedikit ke arah jendela, dan kini aku melihat sesuatu yang membuatku
menyesal telah menyewa kamar yang memiliki jendela.
“...
Amelia Rosenberg ?.” suaraku tercekat melihat sosok berambut itu sudah menyeberangi jalan dan berdiri tepat di bawah jendela memperhatikanku dari luar.

