Sabtu, 02 Juni 2012

Jendela Kayu


Jendela Kayu


            “Sekarang aku tahu, mengapa  harga sewa kamar disini begitu murah. Jika saja aku mengetahuinya lebih awal. Aku tak akan menyewanya.”
            Sore itu aku telah tiba di kota tujuanku. Tak ada waktu istirahat barang semenit pun bagiku. Aku tak punya sanak saudara di sini, kini aku harus mencari tempat menginap secepatnya. Dengan uang yang kubawa ini, sepertinya sebuah hotel kelas melati sudah terasa lebih dari cukup.
            Semua hotel yang ada di dekat pusat kota harganya cukup mahal. Bahkan hotel kelas melati di dekat pusat kota pun berani memasang tarif sekelas hotel berbintang. Mau bagaimana lagi, kini aku berada di salah satu kota tersibuk dan terpadat di negeri ini. Mau tak mau aku harus mencari hotel lain dengan tarif yang lebih terjangkau.
            Setelah berkeliling dan bertanya kepada warga sekitar, aku menemukan sebuah hotel yang cukup terjangkau tarifnya. Letaknya memang tidak begitu dekat dengan pusat kota, hotel ini terletak di dekat pelabuhan, bagian utara dari pusat kota. Tempatnya tidak begitu ramai malah terhitung sepi. Aku suka. Dari tulisan samar-samar di dinding hotel ini terbacalah kata “TERATAI”, yang dapat dipastikan adalah nama dari hotel ini.
            Tak perlu pikir panjang lagi. Aku segera menanyakan harga kamar di hotel ini. Dari kondisi tempatnya. Aku dapat memperkirakan kalau harga kamar di hotel ini akan cukup murah.
            “Kamar kelas standar untuk satu orang masih ada mas ?.” pertanyaan yang tidak perlu kutanyakan lagi, karena sepertinya hotel ini belum menerima tamu hari ini.
            “Masih, mau di cek dulu ?.” Jawab resepsionist hotel seadanya. Sambil mengambil tiga buah kunci kamar hotel.
            “Boleh, kalau bisa yang ada jendelanya ya, mas.” Suasana hari ini memang cukup gerah, sebuah kipas angin mungkin tidak akan cukup untuk mendinginkannya.
            “Oh, kalau itu ada mas, tinggal satu kamar, ini.” Sambil menunjukan kunci kamar bernomor 15.
            “Berapa yang itu mas ?.”
            “Lima puluh ribu, fasilitasnya kamar mandi dalam, kipas angin, sama televisi. Ini satu-satunya kamar yang ada jendelanya mas.” Dengan nada meyakinkan, sambil menawarkan kunci tersebut.
            “Okelah, saya ambil yang itu aja” sambil menyelesaikan administrasi dan membayar sewa kamar.
            “Langsung ke kamarnya aja mas, ada di lantai tiga.” Si pelayan terlihat malas untuk beranjak dari kursinya.
            Kondisi kamar ini tidak terlalu buruk, bahkan cukup baik. Mungkin jika mereka mengganti bohlam lampu lima watt ini dengan lampu yang lebih terang, kamar ini akan terlihat lebih nyaman. Kuhidupkan semua alat elektronik di kamar ini, mulai dari kipas angin sampai televisi. Memang hanya itu alat elektronik di kamar ini. Kipas angin ini sepertinya membutuhkan sedikit reparasi, suara baling-baling kipasnya sangat mengganggu, seperti mendengar mesin jet karatan yang sedang dipanaskan. Televisi pun tidak jauh berbeda nasibnya, gambarnya seperti terbelah secara vertikal di bagian tengah. Setidaknya di kamar ini masih ada jendelanya. Kubuka jendela itu, agar tidak terlalu gerah. Jendela itu mengarah ke seberang jalan. Aku bisa melihat beberapa kendaraan bermotor lalu lalang di jalan tersebut. Langit sore yang jingga pun terlihat dari jendela kayu ini.
            “Sepertinya aku perlu memeriksa kamar mandi.” Gumamku pelan. Sambil membongkar isi ransel besarku. Mandi merupakan hal mewah bagiku, setelah hari yang melelahkan ini.
            Matahari telah terbenam sebagian ketika aku menyelesaikan ritual bersih-bersihku. Tidak ada hal yang bisa kulakukan di dalam kamar hotel ini, perutku pun mulai keroncongan karena sejak siang tadi aku belum makan. Kuputuskan untuk turun ke bawah, dan mencari warung terdekat untuk sekedar membeli makanan dan mungkin mencari kawan untuk mengobrol.
            Tepat didepan hotel, sebuah warung angkringan kecil dengan tenda berwarna oranye baru saja buka. Si bapak pemilik warung baru saja selesai melakukan sentuhan akhir dengan menggeser kursi panjang didekat meja warung. Pemilik warung itu melihatku sedang memperhatikan warung dari pintu hotel dan tersenyum.
            “Mari, mas, pelanggan pertama dapat diskon!” ucap pemilik warung itu sambil tersenyum.
            “Beneran diskon lho pak !,”  kataku sembari berlari kecil menuju warung itu.
            “Hahaha, mumpung masih komplit, mau ambil apa mas ?”
            “Yang penting nasi dulu.” Ucapku sambil menyambar nasi bungkus yang masih hangat dan sate telur puyuh.
            “Minumnya apa mas ?” si pemilik warung sudah mempersiapkan gelas untukku.
            Kopi hitam panas, gulanya sedikit saja”
            “ Ditunggu sebentar ya, mas. Airnya belum mateng.”
            “Ya.”
            “Bukan warga sini ya?, baru pindah?” si pemilik warung menyipitkan matanya saat mencermati wajah tamunya, sembari memuntir kumis abu-abunya.
            “Oh bukan, Pak. Saya sedang berlibur saja di kota ini.”
            “Menginap dimana mas?, hotel itu ya?” sambil menunjuk hotel tempatku menginap.
            “Betul.” satu porsi nasi bungkus telah habis kulahap. Kini jariku mulai menelusuri kumpulan gorengan yang masih hangat.  
            “Jika saya jadi anda, saya akan mencari hotel yang lain di tempat yang lain.”
            “Lho, memangnya kenapa pak?.” sebenarnya aku juga kurang suka dengan suasana hotel itu.
            “Soalnya hotel itu bangunan yang letaknya paling dekat dengan rumah itu. “, sambil menunjuk dengan dagunya, sebuah rumah besar dengan arsitektur belanda yang berdiri tepat di seberang jalan.
            “itu adalah rumah keluarga Rosenberg.” Seorang pria berjaket kulit yang baru duduk di kursi ikut menyambung kalimat si pemilik warung.
            “Kemana aja kau Bud, lama tak nampak batang hidung kau!.” Tegur si pemilik warung kepada si pendatang baru.
            “Sorry Dul, aku baru dapat proyek di luar kota. Kita reunian disini saja ya, aku sudah telpon si Jono tadi.” Kata si pria pendatang, sambil menyalakan sebatang rokok kretek.
            Kedua pria itu terlihat akrab satu sama lain. Sepertinya mereka memang kawan lama. Si pemilik warung terlihat tertawa terbahak sesekali ketika mengobrol dengan pria itu. Dan pria itu tak kalah sumringah ketika membicarakan kisah-kisah masa lalu mereka.
            “Sampai mana tadi aku ?.” kata pria itu sambil menoleh ke arahku.
            “Rumah keluarga Rosenberg”  Jawabku secara spontan. Aku masih penasaran dengan rumah itu dan kisah dibaliknya.
            “Ah iya, haruskah aku menceritakan kisah ini kawan?” pria itu menoleh ke arah pemilik warung.
            “Terserah kau,” kata si pemilik warung sambil meletakan kopi panas pesananku di meja.
            “Baiklah, jadi begini ceritanya. Dulu, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Keluarga Rosenberg tinggal di rumah itu. Mereka adalah keturunan terakhir dengan marga Rosenberg yang ada di kota ini. Sepasang suami istri dan seorang anak perempuan berumur 9 tahun bernama Amelia Rosenberg.”
            “Keluarga ini terkenal akan kekayaannya. Kedua orang tua Amelia sering pergi berlibur ke luar kota, dan meninggalkan anak perempuanyna bersama seorang pengasuhnya. Sendirian di rumah.”
            “Sampai suatu hari ketika mereka pergi berbelanja ke luar kota. Rumah mereka kedatangan oleh tiga orang perampok. Mereka menyekap Amelia di dalam kamar dan meminta uang tebusan pada kedua orang tuanya. Perampok ini pun tidak segan-segan membunuh pengasuh Amelia.”
            “Pokoknya tiga perampok itu orangnya brutal, dek” si pemilik warung ikut menyambar kalimat pria itu.
            “ Hampir dua minggu setelah penyekapan di rumah itu. Tidak ada kabar dari kedua orang tua Amelia. Tepat pada minggu kedua ketiga bandit itu menyerahkan diri ke kantor polisi tanpa alasan yang jelas. Keadaan mereka begitu memprihatinkan, wajah mereka pucat, keringat dingin bercucuran dari wajah mereka, bahkan salah seorang dari perampok itu mengalami luka sobek cukup serius di bagian wajah sebelah kanannya.”
            “Polisi lalu segera memeriksa keadaan rumah keluarga Rosenberg. Jasad pengasuh Amelia ditemukan di bagian loteng rumah itu, tapi Amelia sendiri menghilang entah kemana.” Tangan pria itu terlihat gemetar sembari memegang rokoknya.
            “Seminggu setelah penyerahan diri tiga perampok itu. Sebuah kabar datang dari kedua orang tua Amelia. Mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan dan masuk ke jurang. Jasad sepasang suami istri tersebut ditemukan oleh warga sekitar. Sementara keberadaan Amelia sendiri masih belum diketahui.”
            “Setiap kali aku mengingat kisah itu, semakin sulit aku tidur.” Si pemilik warung yang sejak tadi mendengarkan, ikut menimpali.
            “Masa iya dul?, hahaha.” Sambar pria itu.
            “Kudengar, para bandit itu sudah bebas sekarang.”
            “6 tahun dalam kurungan sepertinya lebih nyaman dan aman daripada diluar sana. Hahaha.” Tawanya terdengar hambar.
            Aku mulai merasa kurang nyaman berada di warung itu. Ditambah aku telah cukup banyak mengobrol, mungkin aku telah mengetahui terlalu banyak tentang tempat ini. Segera kuhabiskan kopi hangat yang sudah mulai dingin, lalu pamit pulang ke kamarku.
            “Sepertinya saya harus kembali ke kamar. Besok harus bangun pagi, supaya tidak ketinggalan bus. Ambil aja kembaliannya pak” Ucapku kepada kedua pria itu. Sambil membayar makanan yang kupesan.
            “Ah iya, terima kasih mas.” Si pemilik warung langsung memasukan uangnya ke dalam laci.
            “Jangan terlalu dipikirkan, ceritaku tadi.” Ujar pria itu. Walaupun tidak semudah itu melupakan sebuah kisah seram yang baru saja didengar.
            “hahaha, pasti tak akan lupa pak.” Aku hanya bisa tersenyum kecut.
Aku berjalan keluar dari warung. Kulihat rumah keluarga Rosenberg yang tak berpenghuni lagi di seberang jalan. Sebuah rumah besar dengan dinding berwarna putih gading, berdiri kokoh tepat di seberang hotel tempatku menginap. Kuperhatikan bagian halaman depan rumah itu. Sebuah ayunan tua terlihat masih terpasang di dekat kolam ikan yang sudah mengering.
Dari arah berlawanan aku melihat pria seumuran pemilik warung, sedang berjalan ke arah warung. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu yang sudah lusuh. Di bagian wajah sebelah kanannya ada semacam codet memanjang sampai ke dagu. Aku langsung mempercepat langkahku menuju hotel.
“Akhirnya datang juga kau Jon!” suara pemilik warung dibelakangku terdengar nyaring menyambut pria berkemeja abu-abu itu.
Di dalam hotel kulihat meja resepsionist, tapi tak ada orang disana. Aku langsung berjalan menuju lantai tiga, menuju kamarku. Sepertinya semua penghuni hotel ini telah telah tertidur. Kulihat jam tanganku, waktu telah menunjukan pukul 23.52, sebaiknya aku pergi tidur juga. Kamar masih terlihat sama seperti saat kutinggalkan. Rupanya aku belum membereskan barang-barang di ranselku yang tadi sempat kubongkar.
Sambil membereskan barang-barang di ranselku aku menengok keluar jendela. Terlihat warung angkringan berisi tiga orang yang terlihat asik bercanda satu sama lain. Lalu kulihat keseberang jalan. Rumah keluarga Rosenberg masih tetap sama, tak berpenghuni. Ayunan yang tadi tergeletak di halaman kini terlihat bergerak mengayun pelan. Seorang perempuan dengan pakaian lusuh sedang duduk di ayunan itu. Sepertinya rumah itu memiliki seorang penghuni. Kuperhatikan wanita itu dari balik jendela kamarku. Ia memiliki rambut pirang dan kulit putih. Seperti orang-orang keturunan Eropa.
“Mungkinkah orang ini adalah…” gumamanku tercekat, ketika perempuan itu menoleh ke arahku. Ia seperti menyadari keberadaanku. Perempuan itu tersenyum ke arahku, senyum datar dengan tatapan tanpa ekspresi. Dan dia masih tetap menoleh ke arahku.
Aku langsung mundur dan merebahkan diri di ranjangku. Aku tak berani memperhatikan jendela itu lagi. Kututupi wajahku dengan bantal, berharap agar mimpi segera datang menjemputku.
Setelah hampir setengah jam aku menutupi wajahku, aku mencoba menoleh ke arah jendela itu lagi. Sebesar apapun ketakutan itu, ia tak akan pernah bisa mengalahkan rasa penasaran. Maka aku mencoba mengintip sedikit ke arah jendela, dan kini aku melihat sesuatu yang membuatku menyesal telah menyewa kamar yang memiliki jendela.
“... Amelia Rosenberg ?.” suaraku tercekat melihat sosok berambut itu sudah menyeberangi jalan dan berdiri tepat di bawah jendela memperhatikanku dari luar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar